FREEDOM OF SPIRIT

"Life is looking deep into yourself,...reading into your deepest soul,..craving the wall of your heart,...and sucking it into the silence of sound", Adriansyah Jackataroeb, quoted from "The Rainbow in the Dawn". "I turn around in my saddle and seen behind me the waving,weaving mass of thousands of white-clad riders and, beyond them, the bridge over which I have come: its end is just behind me while its beggining is already lost in the mist of distance", quoted from Muhd.Asad, Road to Mecca.

Wednesday, August 23, 2006

What you can learn from Jack Welch

Walter Kiechel menceritakan bagaimana seorang icon, gurus atau saint yang berhasil memimpin General Electric (GE) hampir selama 20 tahun dan pensiun pada tahun 2001. Dia adalah Jack Welch yang termasuk dalam “most influencial CEO” dalam 25 tahun terakhir. Jack dikategorikan sebagai seorang leader yang efektif dalam memimpin suatu organisasi, yang di representasikan dalam bentuk kesuksesan yang bersangkutan dalam memimpin GE menjadi leader dalam dunia industri Amerika. Dalam pandangan Kiechel, Jack Welch adalah......”a saint, or at least a guru, to those who worship in the temple of results-oriented capitalism........., he looms as the bogeyman, a symbol of the excesses of sharp-elbowed neo-social Darwinism”. Dibawah kepemimpinan Welch,....” the compnay blew out everyone’s estimate of just how fast a vulnerable industrial elephant could dance, and across how wide a global stage. Any contemporary conversation about leadership in a business setting has to take Welch into account”.

Apa kunci Jack Welch sehingga dapat menjadi seorang leader yang efektif dalam memimpin organisasi raksasa seperti GE? Ybs menguraikan dalam bukunya yang bersub- title “ Straight from the Gut” :

Lesson No.1 : Put the right people in the right job.

“Build “ them-Welch’s verb”,artinya membangun kapasitas, kemampuan dan potensi pegawai sebanyak mungkin dengan berbagai jumlah dan variasi pengalaman. Berikan reward kepada pegawai terbaik anda berupa kesempatan, uang dan penghargaan. Kalau reward sudah diberikan, jangan biarkan dia istirahat di kursinya. Evaluasi terus peringkatnya secara berkelanjutan. Turunkan peringkatnya kalau kinerjanya mulai kendor. Welch tak begitu suka men-set corporate strategy, dia menghilangkan berbagai unsur-unsur perencanaan yang sangat dominan di GE. Dia percaya akan kekuatan manusia ( power of people) terutama yang lebih suka bertindak (berkreasi) sesuai dengan perilakunya (Jack) dalam berorganisasi. Dia sangat tidak suka perilaku “NATO” pada jajaran bawahannya. Dalam jajaran top eksekutifnya terdapat 20% “the best performing people”, yang dijadikan kader2 yang berkemampuan manajerial tinggi, yang mempraktekkan 4 E dalam kepemimpinan GE, yang terdiri:

• Very high Energy level,
• The ability to Energizes others around the common goals,
• The Edge to make tough yes-and-no decision,
• The ability to consistently Execute and deliver their promises

Setiap tahun ”line manager” mengidentifikasi A (best) performer dan B (worst ) performer. Jack sibuk membuang “sampah” setiap tahun. The worst performer mesti meninggalkan GE. Mempertahankan worst performer adalah sikap yang brutal. Brutal is “keeping people around who aren’t going to grow or prosper”. Ini suatu “lesson” yang bagus namun implementasinya agak sulit pada tataran Bank Indonesia, khususnya pada kondisi Indonesia yang mengalami “ high unemployment”.

Lesson No.2 : Come up with few key ideas. Push push push them through company until they become realities.

Dalam bukunya yang terbit 1998, Jack Welch and GE Way, Robert Slater mengemukakan beberapa tema yang di ajukan Welch yang lebih banyak berbau instruksi (militer), seperti “be number 1 or number 2, in your industry”. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, mottonya adalah “ fix, sell or close”. Kalau suatu bisnis tidak bisa mencapai suatu dominasi maka diusahakan suatu perbaikan, kalau alternatif ini tidak jalan, maka bisnis itu akan di jual. Kalau tidak laku di jual, bisnis itu akan ditutup oleh Welch. No compromise! Kalau ingin melakukan sesuatu maka lakukan dengan “ speed, simplicity and self-confidence”. Cepat, sederhana dan yakin!

Lesson No.3 : Hate bureaucracy

Ketika Jack “muda” masih staf junior di GE, Jack sangat membenci birokrasi. Karena menurutnya birokrasi sangat menghambat kreatifitas dan banyak menghilangkan berbagai kesempatan (momentum) yang baik. Pada tahun 1980 GE mempunyai 130 Vice President (VP), 25,000 manajer dan belasan level hierarki antara CEO sampai ke “shop floor”. Duapuluh tahun kemudian VP hanya bertambah 25%, manajer sangat berkurang dan hanya ada 6 layers dalam organisasi GE.

Untuk menggunting birokrasi yang menggurita ditubuh GE, Welch mentransformasi personal yang berada di jalur fungsional ke jalur operasional (bisnis). Sebanyak 12.000 staf di bidang keuangan dan audit ditraining kembali dalam bidang2 yang lebih menekankan leadership, mangerial dan keuangan, mengambil peran sebagai mitra bisnis dalam menggerakkan bidang-bidang usaha GE yang terkait langsung dengan kegiatan operasional GE. Komentar Welch, pada waktu mentransformasi staf fungsional.....”controlling the hell out of the place but didnt want to change either company or itself”.

Lesson No.4 : Talk Straight, speak your mind, even to a degree bordering on brutal candor. Expect others to do the same.

Jangan bertele-tele karena waktu adalah uang. Dalam rapat sebaiknya “to the point” dan tidak terlalu memboroskan waktu. Jack coba menggugah stafnya untuk memberikan gagasan2 berserta solusinya, namun jangan sakit hati kalau gagasan tersebut dibuang ketempat sampah karena dianggap tidak ada nilainya oleh Jack.

Lesson No.5 : Do deals, launch initiatives, keep the army always moving forward. Act act act and dont look back.

Jack tidak suka melihat hasil yang telah diperbuatnya selama ini, karena itu tidak ada artinya. Itu hanya sebuah sejarah. Bagi Jack melihat kedepan adalah lebih penting karena kita akan menuju kemasa depan bukan masuk kedalam “mesin waktu” untuk kembali mundur. Jack banyak sekali melakukan akuisisi dan divestasi. Dia meng-akusisi perusahaan-perusahaan yang potensial untuk dikembangkan, dan men-divestasi usaha-usaha yang kurang menguntungkan. Pencapaian Jack sangat luar biasa, tidak terhitung energi yang dipakainya untuk mengembangkan GE sehingga menjadi “super company”. Namun begitu, dia tidak menyukai melihat apa yang telah dicapainya, dia lebih suka membicarakan apa yang akan di capai oleh GE kedepan.

Lesson No.6 : Always make your number.

“ It’s how you know you’re winning. And it also represents a handy alternative to the examined life”.

REFLEKSI (dari penulis):

Should or could we are be “Jack”? Jack dapat melakukan hal tersebut karena dia memegang peran kunci sebagai CEO dalam GE. Budaya GE mendukung dilakukannya hal-hal tersebut diatas secara lugas dan effisien, sedang kita sedang atau masih mencari-cari budaya kerja yang pas dengan kondisi internal dan eksternal Bank Indonesia. Meskipun tidak semuanya prinsip-prinsip bisnis Jack bisa kita adopsi namun mungkin ada beberapa prinsip tersebut dapat kita terapkan dalam organisasi kita seperti “keep offering ideas, dont promise what you cant deliver, speak straight, launch intitiaves, always moving forward......”, agar kita berfungsi secara effektif sebagai seorang leader.

Pro memoir:
Romowaton, Jakarta, 27 July 2006.



Daftar Pustaka:

Kiechel, Walter, What you can learn from jack Welch, From Timesaving Guide Book, “Becoming An Effective Leader”, Harvard Business School Press, 2005.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home