FREEDOM OF SPIRIT

"Life is looking deep into yourself,...reading into your deepest soul,..craving the wall of your heart,...and sucking it into the silence of sound", Adriansyah Jackataroeb, quoted from "The Rainbow in the Dawn". "I turn around in my saddle and seen behind me the waving,weaving mass of thousands of white-clad riders and, beyond them, the bridge over which I have come: its end is just behind me while its beggining is already lost in the mist of distance", quoted from Muhd.Asad, Road to Mecca.

Wednesday, August 23, 2006

SERTIFIKAT BANK INDONESIA

SBI bukan singkatan “Serikat Buruh Indonesia” dan bukan pula plesetan dari “Suharto Bangkrutkan Indonesia” walaupun artinya hampir dekat dengan plesetan yang terakhir. SBI adalah Sertifikat Bank Indonesia yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Republik Indonesia yang berfungsi sebagai instrumen kebijakan moneter. SBI di pergunakan oleh Bank Indonesia untuk menyedot likuditas yang berlebihan di masyarakat. Teorinya apabila likuiditas yang berlebih ini tidak diserap oleh Bank Indonesia maka akan terjadi ketidak-seimbangan antara pasar uang dan pasar barang. Jumlah uang yang beredar tidak sesuai dengan jumlah barang yang tersedia di pasar. Jumlah uang yang berlebih dari pasokan barang yang tersedia akan mendongkrak harga-harga berbagai jenis barang. Apabila tingkat harga bergerak naik secara umum maka kenaikan harga ini disebut sebagai inflasi. Inflasi sangat tidak menguntungkan bagi orang yang berpendapatan tetap karena inflasi merampok daya beli mereka. Inflasi juga menimbulkan dampak ketidak-pastian kepada pengusaha. Oleh karena itu, inflasi harus dikendalikan pada level yang “acceptable” sehingga kondusif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Masalahnya sekarang SBI sudah beralih fungsinya. SBI yang tadinya berfungsi sebagai alat kebijakan moneter, sekarang beralih sebagai instrumen investasi. Bank-bank ogah memberikan kredit karena risikonya lebih tinggi, sementara menanamkan uang di SBI lebih aman dan menikmati margin yang relatif besar. Lihat saja BCA, bank swasta yang terkenal dengan jaringan ATM yang sangat luas. BCA tidak memberikan bunga untuk simpanan dibawah Rp.2 juta rupiah, disamping tetap membebankan pemeliharaan kartu ATM yang bervariasi antara Rp.5000,- sampai Rp.10.000,- perbulan. Dapat dibayangkan berapa keuntungan yang diraup oleh BCA dari penabung-penabung kecil setiap bulan, yang merupakan perbedaan bunga SBI dengan Bunga tabungan yang nol persen. Hal yang serupa juga dinikmati oleh bank-bank lain walaupun dalam bentuk “degree” yang berbeda-beda.

Siapa yang harus menanggung ongkos SBI tersebut? Siapa lagi kalau bukan otoritas moneter yang dikenal dengan nama Bank Indonesia. Bank Indonesia harus mengeluarkan biaya operasi SBI yang berkisar antara 10 sampai 25 trilyun rupiah. Dari mana Bank Indonesia memperoleh uang? Yaitu melalui pencetakan uang. Dus bunga SBI yang dibayar melalui pencetakan uang pada dasarnya bersifat inflatoir. Setiap bulan, BI menambah junlah uang beredar antara Rp. 1 s/d Rp.1,5 trilyun perbulan dalam bentu pembayaran bunga SBI. Kalau SBI ini terus meningkat dan memakan modal Bank Indonesia maka mau tak mau pemerintah harus mencadangkan dana dari APBN untuk menutup kerugian BI dari operasi kebijakan moneter. Artinya operasi SBI ini bisa membangkrutkan pemerintah dan negara ini.

Siapa yang di untungkan dengan memberlakukan SBI sebagai instrumen investasi? Pertama ialah bank-bank domestik yang memperoleh margin yang merupakan perbedaan dari simpanan tabungan masyarakat dan penempatan bank-bank di SBI. Bank-bank menjadi malas memberi kredit dan lebih senang memperbanyak portofolionya dalam bentuk SBI. Akibatnya fungsi intermediasi bank menjadi mandul. Kedua adalah orang-orang kaya Indonesia yang bisa membeli SBI langsung lewat bank-bank. Artinya SBI ini disamping memperkaya bank dan pengurus/pemilik bank, juga memperkaya segelintir orang-orang Indonesia yang mempunyai duit puluhan sampai ribuan milyar. SBI berperan meningkatkan jurang perbedaan antara si miskin dan sikaya secara berkelanjutan. Barangkali ini masih dapat diterima namun yang terjadi saat ini bukan saja orang Indonesia yang dapat menikmati “gurihnya” bunga SBI, para investor asing, hedge fund dan orang-orang kaya di luar negeripun ikut membeli SBI. Kalau sudah seperti ini, kita akan bertanya-tanya, apa dibenarkan kita memperkaya orang/negara lain, sementara “resources” di negara kita sendiri masih sangat langka. Apa kita rela menggunakan uang rakyat sebagai pembayar pajak untuk digunakan menutupi kerugian BI sebagai akibat operasi SBI? Sekarang saja trilyunan rupiah pengeluaran operasi SBI hanya untuk meperkaya pemilik uang sementara uang yang di parkir di BI hasil penjualan SBI menjadi “financial resources” yang “idle” karena tidak bisa dimanfaatkan.

Apakah ada instrumen lain yang lebih effektif dan produktif sebagai alat kebijakan moneter? Ada!, dan instrumen tersebut lazim digunakan oleh bank-bank sentral lain didunia. Namanya adalah surat perbendaharaan negara (SPN), yang dalam bahasa asing dikenal dengan istilah Treasury Bills. Mestinya BI dapat menggunakan SPN sebagai instrumen moneter namun sampai saat ini Pemerintah belum mau menerbitkan SPN dengan berbagai alasan. Padahal banyak keuntungan yang diperoleh dari penerbitan SPN. Pertama, SPN sebagai instrumen effektif untuk mengaloksikan resources kearah yang lebih produktif. Dalam situasi dimana intermediasi mandul karena bank tidak konfiden memberikan kredit (a.l.karena pertimbangan risiko yang tinggi), pemerintah melalui kebijakan fiskal dapat mendorong pertumbuhan, dengan cara menerbitkan SPN dan menggunakan hasil penjualan SPN tersebut untuk investasi dibidang-bidang produktif seperti infrastruktur dan proyek2 lain yang produktif. Daripada meminjam dari luar dimana pemerintah menghadapi risiko nilai tukar dan sukubunga, sebaiknya pemerintah memanfaatkan dana masyarakat yang tersimpan dalam bentuk SBI yang mencapai 170 trilyun. Penggunaan SPN dalam denominasi rupiah, pemerintah hanya menghadapi risiko perubahan suku bunga namun terhindar dari risiko perubahan nilai tukar. Dengan mengandalkan sumber-sumber dalam negeri, pemerintah tidak terlalu terikat pada pinjaman-pinjaman yang kadang-kadang kental dengan implikasi politik. Dan yang jelas, dana yang bersumber dari penerbitan SPN kalau dikelola secara baik, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan sekaligus mengurangi penggangguran yang saat ini sudah sampai pada tahap yang memperihatinkan. Dengan perkataan lain, sekali mendayung dua pulau terlampaui.

Jakarta, 25 July 2006-07-25
Jacky Ramandanoe

0 Comments:

Post a Comment

<< Home