FREEDOM OF SPIRIT

"Life is looking deep into yourself,...reading into your deepest soul,..craving the wall of your heart,...and sucking it into the silence of sound", Adriansyah Jackataroeb, quoted from "The Rainbow in the Dawn". "I turn around in my saddle and seen behind me the waving,weaving mass of thousands of white-clad riders and, beyond them, the bridge over which I have come: its end is just behind me while its beggining is already lost in the mist of distance", quoted from Muhd.Asad, Road to Mecca.

Wednesday, August 23, 2006

Personal ambition,Privilege and career development

Kadang-kadang pada saat kita sedang tidak sibuk, sejenak kita merenung dan bertanya kepada diri sendiri: Apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidup kita? Pangkat (kedudukan), kekayaan atau kesenangan (pleasure) yang dalam istilah jawa sering disebut tahta, harta dan.....wanita. Sebenarnya apapun yang kita inginkan ,...sah-sah untuk dicapai namun karena kita hidup didalam suatu norma-norma tertentu apakah itu norma-norma sosial yang diakui keberadaannya atau norma-norma agama yang bersifat religious. Apabila upaya pencapaian kita tidak sejalan dengan norma-norma tersebut maka perilaku (behaviour ) kita akan dianggap “aneh”. Dalam kamus wikipedia “human behavior” diterjemahkan sebagai...”collection of activities performed by human beings and influenced by culture, attitudes, emotions, values, ethics, authority, rapport, hypnosys, persuasion, and/or coercion. Human behavior (and that of other organism and mechanism) can be common, unusual, acceptable, or unacceptable. Humans evaluate the acceptability of behavior using social norms and regulate behavior by means of social control”.

Kita yang berkerja di instansi manapun sudah tentu menginginkan adanya suatu jalur karir yang pasti. Setiap orang ketika mulai masuk berkerja baik secara terus terang (explisit) maupun malu-malu tentu ingin mencapai karir yang setinggi mungkin di tempat kita bekerja. Apakah itu akan tercapai atau tidak sangat tergantung berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut bisa internal (bersumber dari diri kita sendiri) namun dapat pula bersumber dari luar diri kita (external). Beberapa waktu lalu pernah dikemukakan kiat untuk sukses yaitu dikenal dengan istilah P.L.N. .....artinya bukan Perusahaan Listrik Negara namun merupakan plesetan dari Pandai, Luwes dan Nasib. Saya menambahkan huruf W.....bukan Watt (kilowatt) yang diproduksi PLN, tapi Waktu. Artinya kita bisa mencapai jenjang tersebut bisa sebentar (dalam hitungan tahunan) atau bisa lama sekali (dalam hitungan dekade/dasawarsa). Pandai dan luwes (pintar bergaul) tersebut adalah suatu “necessary condition” namun belum merupakan “sufficient condition” untuk mencapai sukses. Untuk itu faktor nasib masih mempunyai porsi untuk berperan dalam menentukan karir kita kedepan.

Apapun kriteria yang ditetapkan dalam rangka mencapai kedudukan tersebut, kita memerlukan ambisi pribadi (personal ambition) yang kuat. Dalam kamus Encarta, personal ambition diartikan sebagai:....” a person with desire to success or a person with strong feeling wanting to be succesful in life and achieve a great things.”. Ambisi biasanya membutuhkan adanya motivasi yang kuat pula. Dalam psikologi, motivasi mengacu kepada,...”initiation, direction, intensity and persistence behavior. Motivation is a temporal and dynamic state.....is having the encouragement to do something. A motivated person can be reaching a long-term goal.....or a more short-term goal.........”.Motivasi kita kenal dengan dua tipe yaitu intrinsic motivation, yaitu yang bersumber dari internal factor yang bersumber dari dalam diri manusia sedangkan extrinsic motivation yaitu motivasi yang digerakkan oleh external factor seperti tangible reward yaitu gaji dan promosi, intangible reward berbentuk seperti apresiasi dan pengakuan publik.

Untuk mencapai personal ambition yang didorong oleh motivasi dengan beraneka ragam “drive” tersebut, ada yang mendapatkannya melalui kerja keras dan perjuangan yang tak kenal lelah, sementara ada pula karena memperolehnya melalui privilege. Dalam kamus Encarta, privilege ( as a noun) diartikan sebagai “ an advantage, right, or benefit that is not available to everyone” artinya seseorang memperoleh hak tersebut karena adanya perlakuan khusus (special treatment). Dalam arti “transitive verb”,...” to grants a special right or benefit to somebody or to exempt or release somebody from something”. Jadi ada orang atau sekelompok orang dalam organisasi memperoleh jabatan atau kedudukan karena ybs memperoleh suatu perlakuan khusus bukan karena keahlian, ekspertise ataupun kompetensi yang dimiliknya. Seyogianya dalam organisasi seperti apapun, hal-hal tersebut semestinya tidak boleh ditolerir baik dalam bentuk yang paling “soft” sekalipun. Oleh karena itu, kita perlu menciptakan berbagai sistem dalam manajemen sumber daya manusia (Human Resources Management System=HRMS) untuk mencegah adanya privilege-privilege tersebut, yang dalam jangka panjang akan memperlemah suatu organisasi. Apakah ada instansi yang dikateogikan sebagai organisasi yang kental bernuansa “privilege”? Mudah-mudahan tidak karena setiap organisasi modern selalu mengedepankan faktor kompetensi sebagai yang utama dan senantiasa berupaya meningkatkan kompetensi pegawainya secara konsisten dan berkesinambungan. Kompentensi tersebut dapat dilihat pada “track record” masing-masing individual dalam organisasi. Berbagai pendidikan dan pelatihan didalam dan diluar negeri yang dilakukan oleh suatu organisasi dan kegiatan-kegiatan Organisasi yang berbasis pengetahuan (OBP) yang dilakukan secara taat azas adalah bagian dari kegiatan untuk meningkatkan kompetensi pegawai.

Kalau kita sudah sepakat bahwa kita mengedepankan kompetensi, baik kompetensi teknis maupun manajerial maka faktor yang sangat penting berikutnya (menurut saya) adalah faktor perilaku, sebagaimana yang saya kemukakan pada awal tulisan ini. Mengapa faktor perilaku ini begitu sangat penting? Karena pada umumnya diberbagai organisasi sangat ditekankan untuk berkerja secara “team” (berkelompok). Berkerja sebagai team berbeda dengan berkerja sebagai individu. Dalam team diperlukan suatu sinergi antara masing-masing individu sehingga tercapai suatu hasil yang maksimal. Team itu dapat berbentuk kelompok, Biro, Direktorat ataupun suatu instansi/institusi. Dalam suatu kelompok, Biro dan Direktorat sangat diperlukan suatu kerjasama yang baik. Kerja sama tidak berarti menghilangkan kompetisi. Kompetisi adalah bagian penting dalam organisasi. Tanpa kompetisi maka organisasi akan terasa membosankan dan kering. Namun kita memerlukan kompetisi atau persaingan yang sehat dan konstruktif. Pertanyaannya adalah bagaimana menyeimbangkan ambisi pribadi yang sangat kuat dalam spirit kerjasama yang baik dengan tetap mempertahankan suasana atau lingkungan yang kompetitif. Disamping itu, kita semestinya tidak boleh menggunakan perilaku machiavelism yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Meskipun kita mempunyai ambisi pribadi yang kuat, harus pula diseimbangkan dengan perilaku “altruism” dan “emphaty” yang memadai.

Mengutip kamus wikipedia, emphaty diartikan sebagai....”one’s ability to recognize and understand the emotion of another. Empathy is often characterized as the ability to put oneself in another’s shoes, or experiencing the outlook or emotion of another being within oneself, a sort of emotional resonance”. Sementara altruism diartikan....”is the practice of placing others before oneself, focuses on motivation to help others or a want to be good without reward, while duty focuses on a moral obligation foward a specific individual. Meminjam istilah Dr. Ralph Shrader, altruism is about considering the greater good of others in our decisions and actions. Ybs menekankan perlunya keseimbangan antara “personal ambition” dan sikap “altruism”,.....” I see both ambition and altruism as a good things. They can and should be mutually reinforcing, not opposing, forces. That balance is possible when ambition in our inner drive to excell (rather that a desire to “beat” someone else)....and when altruism is better way of living the consider the greater good (rather than a nice-to-do add-on for occasions when we have extra time or money)”. Dr Shrader menekankan perlu adanya keseimbangan antara ambisi pribadi yang kuat dan sikap yang menghargai orang lain dalam upaya mencapai karir puncak diadalam suatu organisasi.

Apa yang terjadi apabila kita tidak mampu atau tidak dapat bekerja-sama dengan harmonis dengan orang lain atau kehadiran kita tidak membawa suasana sejuk dalam suatu team, suatu kelompok, suatu biro atau suatu direktorat? Dalam keadaan demikian, kita perlu waspada bahwa perilaku kita tersebut barngkali bukan hanya karena di dorong “personal ambition” yang di “drive” oleh motivasi yang berlebihan namun kemungkinan besar perilaku kita sudah terkena suatu penyakit yang dalam istilah psikologi disebut sebagai “personality disorder”. Dalam wikipedia encyclopedia, “personality” diartikan sebagai...” a collection of emotions, thoughts, behaviors and interaction patterns of an individual, which are cnsistent over time and situations”, sementara personality disorder di definisikan sebagai...”form of mental disorder that are characterized by long-lasting rigid patterns of thought and behavior. Because of the inflexibility and pervasiveness of these patterns, they can cause serious problems and impairment of functioning for the persons who are afflicted with these disorders ......or as an enduring pattern of inner experience and behavior that deviates markedly from the expectations of the culture of the individual who exhibits it......The onset of the pattern can be traced back at least to the beginning of adulthood. To be diagnosed as a personality disorder, a behavioral pattern must cause significant distress or impairment in personal, social, and/or occupational situations”. Tentu apabila kita mengalami personality disorder yang parah maka situasi ini akan segera ketahuan namun kalau kehadiran penyakit tersebut dalam bentuk yang sangat “mild”, bisa terjadi bahwa kita mengalaminya secara tidak sadar. Barangkali yang seperti inilah yang banyak di jumpai dalam suatu organisasi.

Untuk mengetahui apakah kita terkena personality disorder maka kita perlu mengetahui ciri-ciri dari gangguan psikologis tersebut. Menurut buku panduan yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, yang berjudul “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM), ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mengkategorikan seseorang masuk dalam golongan “personality disorders”. Pola-pola tersebut harus mencerminkan pengalaman dan perilaku yang menyimpang dari apa yang diharapkan dari perilaku seseorang yang dianggap normal. Hal tersebut mencakup (1) cognition (perception and interpretation of self, others and events), (2) affectivity ( the range, intensity, lability, and appropriatness of emotional response), (3) interpersonal functioning, (4) impulse control.

Dalam DSM ada 10 jenis “personality disorder” yang dibagi dalam 3 kluster yaitu kluster A ( yang lazim disebut sebagai odd atau eccentric disorder) terdiri dari (1) paranoid personality disorder, (2) schizoid personality disorder, (3) Schizotypal personality disorder. Kluster B terdiri dari (1) antisocial personality disorder, (2) borderline personality disorder, (3) histrionic personality diorder, (4) Narcissistic personality disorder. Kluster C terdiri dari (1) avoidant personality disorder, (2) dependent personality disorder, (3) obsessive-compulsive personality disorder.

Pada kesempatan ini kita tidak akan membahas semua jenis “gangguan personalitas” tersebut karena ada beberapa jenis gangguan tersebut jumlahnya sangat sedikit dalam populasi dan ada pula karena bawaan dari sejak lahir antara lain seperti autism dan attention deficit disorder (ADD). Gangguan personalitas yang timbul pada orang dewasa yang akan kita diskusikan adalah yang timbul akibat “salah asuh”, “salah didik” dalam keluarga dan/ atau berada pada lingkungan yang tidak kondusif sehingga terbawa pada saat seseorang itu beranjak dewasa. Tipe-tipe itu antara lain masuk dalam golongan (1) paranoid personality disorder, (2) histrionic personality disorder, (3) Narcissistic personality disorder.

Bagaimana ciri-ciri perilaku dari setiap jenis personality disorder tersebut? Untuk tipe paranoid yang disebut sebagai perilaku yang....”implies the presence of ongoing, unbased suspiciousness and distrust of people”. Ciri-cirinya dapat di ingat dengan mnemonic (singkatan) SUSPECT yaitu apabila seseorang mempunyai perilaku S (spouse is cheating suspected), U (unforgiving-bears grudges), S (suspicious of others), P (perceives attacks and reacts quikly), E (enemy in everyone-suspects associates,friends), C (confiding in others feared), T (threats seen in benign events). Tipe histrionic personality disorder di cirikan sebagai perilaku yang...” involves a pattern of excessive emotional expression and attention-seeking, including an excessive need for approval....”. Untuk dapat dengan mudah mengingat ciri-ciri tersebut dapat dipakai singkatan “ PRAISE ME” yang artinya P (provocative or seductive behavior),R (relationship,considered more intimate than they are), A (attention,must be at center of), I (influence easily), S (speech style-want to impress, lacks detail), E (emotional lability, shallowness), M (make-up, physical appearance used to draw attention), E (exaggerated emotions-theatrical). Sementara tipe narcissistic personality disorder dicirikan sebagai...” a maladaptive, rigid, and persistent condition that may cause sugnificat distress and fuctional impairment. The onset usually begins by early adulthood as a failure to outgrow the normal narcissism inherent between infancy and adolescence”. Ciri-ciri perilaku narcissistic dapat mudah di ingat dengan singkatan TO ME FIRST yang terdiri dari T (“take attention to me” is his or her motto”), O (on nevery ocassion has a grandiose of self importance, e.g., exaggerates achievements and talents, expect to be recognized as superior and high quality), M ( his or her “mind” is preoccupied with fantasies of unlimited success, power, brilliance, beauty or ideal love), E (Emphaty, lack of—is unwilling to recognized or identify with feelings and needs of others), F (friendships lacking, due to superior of feeling ar thinking), I (insist or believes that he or she is “special” and unique and can only be understood by other special or high status people), R (require excessive admiration), S (strong sense of entitlement, i.e., unreasonable expectations of especially favorable treatment or automatic compliance with his or her own ends), T (take advantage of others-in negative sense-to achieve his or her own ends). Dengan mengenai ciri-ciri perilaku yang menyimpang tersebut, mari kita melakukan instropeksi, apakah kita masuk dalam golongan tersebut (dalam bentuk yang agak “strong” atau “mild”) sehingga mengakibatkan kita sulit untuk berkomunikasi secara jujur dan bekerja sama dengan baik. Bila jawabannya positif, mari kita segera memperbaiki diri agar dapat memberikan sumbangan yang positif baik kepada team maupun kepada organisasi.

Apa kesimpulan dari refleksi kita terhadap ambisi pribadi, privilege dan karir? Untuk sukses kita harus dapat bekerja sama dengan baik, saling appresiasi dan memberikan emphaty, tidak saling curiga antar sesama kolega, atasan dan bawahan, selalu positif thinking, memandang persaingan sebagai “want to excell, not to beating someone”, tidak melakukan dan mentoleransi adanya “office politics”, selalu berkontribusi secara konkrit, memegang komitmen dengan teguh dan “last but not least”, ....selalu siap membantu dengan sikap “altruism” bukan “machiavelism”. Secara singkat, karir kita menanjak karena “ditarik” oleh atasan dan di “dorong” dengan tenaga, doa dan semangat dari kolega dan bawahan bukan dengan cara-cara machiavelism. . Refleksi ini ditujukan buat kita semua yang “concern” dengan rasa kebersamaan. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka:

1) A Timesaving Guide, The result driven manager, Becoming an effective leader, Harvard Business School Press, 2005
2) ------------------, Motivating people for improved performance, Harvard Business School Press, 2005
3) Harvard Business Essentials, Coaching and Mentoring, Harvard Business School Press, 2004
4) Bank Indonesia, Membangun karakter sebuah bank sentral, Jakarta, 2005
5) Wikipedia Encyclopedia, http://en.wikipedia.org/wiki/
6) Shrader, Ralph, Balancing your personal ambition with concern for others, www.boozallen.com/
7) Whigham, Frank, Personal Ambition and Privilege, The Social tropes of Elizabethan Courtesy Theory, University of California Press, Berkeley, 1984

0 Comments:

Post a Comment

<< Home