FREEDOM OF SPIRIT

"Life is looking deep into yourself,...reading into your deepest soul,..craving the wall of your heart,...and sucking it into the silence of sound", Adriansyah Jackataroeb, quoted from "The Rainbow in the Dawn". "I turn around in my saddle and seen behind me the waving,weaving mass of thousands of white-clad riders and, beyond them, the bridge over which I have come: its end is just behind me while its beggining is already lost in the mist of distance", quoted from Muhd.Asad, Road to Mecca.

Tuesday, March 07, 2006

Pelangi di Senja Hari (Satu judul novel dari sebuah Trilogi)


PELANGI DI SENJA HARI.
Bagian Pertama dari Trilogi

Episode 1: Panas yang membara.

13 Mei 1998, pukul 6.30 pagi, aku mengeluarkan mobil dari garasi, untuk mengantar anakku ke sekolah yang berlokasi di Kebayoran. Istriku kebetulan sedang kurang enak badan sehingga aku terpaksa menggantikannya untuk mengantar anakku ke sekolah. Aku menelpon ke kantor, untuk memberitahukan bahwa aku datang agak terlambat. Situasi pada beberapa hari belakangan ini sangat menegangkan karena berbagai kebijakan pemerintah untuk mengatasi keadaan krisis nilai tukar belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Berbagai kebijakan pemerintah selalu dihadang oleh berbagai kepentingan yang berkaitan dengan bisnis putra-putri presiden. Pasar kehilangan kepercayaan dan itu tercermin dari nilai tukar yang terus melemah tajam. Tak terasa mobilku sudah meluncur kejalan Sudirman, setelah men-drop anak-anak ku, Adrian dan Aisha yang bersekolah di Al-Azhar Kebayoran.

Dok..Dok..Dok….., pukulan keras terdengar dari kap mesin mobilku sambil disertai pekikan keras dan melengking. Berhenti!Berhenti! Aku terkejut dan berdebar-debar, segerombolan demonstran yang baju berbagai warna menyetop mobilku. Jantungku berdegup semakin keras! Mati aku….,mobil kesayanganku , sedan Lancer Mistsubishi, yang baru kubeli beberapa bulan, bakalan jadi rongsokan besi tua, jika aku tak arif dalam memahami emosi para demonstran ini. Mobil ini kubeli seharga Rp.88 juta dari tabungan dollarku senilai US $ 8000,--. Aku tidak bermimpi dapat membeli mobil sebagus ini. Namun ketika kurs rupiah melemah tajam dari Rp.2200,-- menjadi Rp.10.000,--, mimpiku berubah menjadi kenyataan. Harga mobil ternyata tidak bisa bergerak naiknya seiring dengan kecepatan pelemahan nilai rupiah terhadap dollar. Jadilah mobil bagus dan keren ini menjadi milikku.

Ada apa Bung, kata ku dengan nada yang dibuat sedemikian kalem, yang sesungguhnya hatiku agak merasa kecut. Aku masih teringat peristiwa Malari, 27 tahun yang lalu ketika aku masih SMA dan ikut2an di demo di jalan Blora. Banyak sekali mobil-mobil Jepang yang dibakar. Aku menyaksikan seorang Ibu histeris karena mobil mercinya dibakar oleh demonstran. Aku berdoa semoga saja peristiwa itu tak terjadi pada diriku.

Mobil Bapak harus berhenti!, jawab seorang mahasiswa berjaket kuning, jalan didepan sudah diblok oleh polisi dan tentara. Kalau Bapak masih memaksa terus, kami tidak menjamin keselamatan Bapak karena kami sedang berhadapan dengan tentara dan polisi milik penguasa Suharto!.

Bangsat !!, makiku dalam hati, aku tak mungkin memundurkan mobil karena dibelakangku puluhan bahkan ratusan mobil terjebak dalam antrian yang cukup panjang. Aku terjebak di jalan Thamrin daerah Dukuh Atas , pas didepan Jalan Blora, dimana aku pernah ikut berdemo 21 tahun yang lalu. History repeated itself, kenangku diantara keadaan melamun sembari panik. Perlahan aku mencoba menepi, untuk mengambil kekiri untuk masuk ke jalan Latuharhary. Situasi semakin menegangkan, kudengar beberapa rentetan tembakan dan pekikan para demonstran yang menuntut pengunduran diri Presiden Suharto. Asap mengepul di kejauhan.

Tiba-tiba handphone ku berdering,......Hallo Pak......Herry disini, kurs sudah tidak terkendali melampaui ‘ uncharted territory”, semua “resistance level” sudah tertembus. Mohon petujuk dari Bapak, apakah kita akan “squaring” atau “keep our long position”.
Herry,...halo Herry....jangan panik, jawabku setengah berteriak, karena situasi diluar mobil semakin tegang dan condong chaos, tunggu sebentar, kau akan kuhubungi lagi....OK! Kuputus telpon Herry, dan aku mendapat kesempatan masuk kejalur lambat, dan mengarahkan mobilku ke jalan Latuharhary.

Aku kembali mencoba untuk mengontak Herry, salah satu dealerku yang lagi bertugas pada hari itu.

Herry, hallo....
Ya hallo, Mas Galuh...., Herry disini...,jawabnya dengan nada suara penuh khawatir.
Herry, berapa jumlah posisi kita ?
Kita “long position” sebesar US $ 250 juta, dan sekarang “rate” di sekitar Rp.15.000,--,jawabnya dengan nada gemetar. Aku tahu posisi itu cukup besar dan apabila perkiraan kami salah maka kerugian yang diderita lumayan besar. Di Pasar beredar rumor beberapa dealer dan Chief Dealer bank-bank asing dan swasta nasional sudah ada beberapa yang dipecat karena kerugian transaksi valas yang cukup besar.

Herry, aku masih di jalan,sahutku, kalau keadaan sudah membaik, aku coba kekantor dengan menggunakan ojek. Situasi jalan sangat padat. Aku tak mungkin kembali kekantor dalam waktu dekat. Kurasa US $250 juta sesuai dengan “maksimum limit” yang diperkenankan berdasarkan pedoman transaksi valas kita. Biarkan posisi tersebut tetap “long”, sambil menunggu informasi dan rumor apa yang sedang beredar dipasar.

Jangan lama-lama Mas Galuh, teman-teman sudah pada nervous dengan pasar yang semakin tidak terkendali. Ada rumor, presiden mau mengundurkan diri....

OK..OK, wait for me to be there, Herry, dont make any move...., kataku sambil memarkir mobil di jalan Lembang, dan bergegas mencari ojek. Aku bersyukur, ada ojek lewat dan tanpa tawar menawar aku segera memerintahkannya ke Bank Mandira Antar Negara (MAN) disamping Hotel Presiden, yang kini berganti menjadi Hotel Nikko. Sampai di gerbang, ojek ditahan Satpam, dan si Satpam terheran-heran melihat aku naik ojek. Tanpa banyak bicara, kusumpalkan uang Rp.50.000,-- ditangan sipengojek. Dia terbengong melihat uang sebanyak itu. Ambil semua, itu bukan dari saya tapi rezeki dari Yang Maha kuasa, kataku sambil menunjukkan jari keatas. Dia segera berlalu, sambil menekan gas, melaju masuk ke jalur lambat dari depan pintu masuk kantorku.

Satpam yang biasa melihatku sehari hari melalui gerbang kantor, tergopoh-gopoh membukakan lift untukku. Aku bergegas masuk dan langsung ke Dealing Room, lantai 12.

Suara hiruk pikuk terdengar ketika aku membuka pintu Dealing Room. Suara boker box bersahut-sahutan dari beberapa broker box yang ada di meja dealer.
Berapa “rate” sekarang?, tanyaku setengah berteriak kepada Herry,
50-60 Mas,jawab Herry
Berapa big figurenya?, tanyaku lagi
15.550/60, sahut Herry
What’s going on? Kenapa rupiah selemah ini? Ada rumor apa?, tanyaku.
Mas, ada rumor presiden mau mengundurkan diri...., kata Tommy yang berdiri disamping Herry,beberapa supermarket dan toserba sudah diserbu oleh massa. Mereka menjarah semua isinya. Beberapa ruas jalan sudah diblokir baik oleh massa demonstran maupun oleh polisi dan tentara. Terjadi penyerbuan terhadap beberapa bank dan pembakaran ban-ban bekas di jalan protokol.
My goodness...! Jakarta is burning!, aku melongok melalui jendela kaca yang dapat memantau daerah Kota, Grogol dan Slipi. Asap mengepul dimana-mana. Suara helikopter meraung-raung diangkasa. Polisi dan tentara berjaga-jaga di tempat-tempat vital, seperti hotel dan kantor-kantor pemerintahan. Jakarta sekali lagi menjadi tempat yang berbahaya baik bagi penduduknya maupun bagi turis mancanegara. Kulihat jam sudah menunjukkan pkl 12.00. Sebentar lagi pasar valuta asing antar bank akan jeda sebelum dibuka lagi pada pukul satu siang. Badanku terasa penat dan cape. Kuminta Herry dan Tommy tetap waspada,kalau-kalau ada atau terjadi anomali di pasar. Kuminta mereka memasang “stop-loss”, seandainya pasar berbalik arah. Menjadi dealer pasar valuta asing memerlukan kewaspadaan yang sangat tinggi dan mental yang kuat. Kehidupan ini telah kujalankan hampir selama delapan tahun. Dunia yang penuh dengan gelimangan uang dan sex serta terkenal dengan semboyannya “my word is my bond”.

***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home