FREEDOM OF SPIRIT

"Life is looking deep into yourself,...reading into your deepest soul,..craving the wall of your heart,...and sucking it into the silence of sound", Adriansyah Jackataroeb, quoted from "The Rainbow in the Dawn". "I turn around in my saddle and seen behind me the waving,weaving mass of thousands of white-clad riders and, beyond them, the bridge over which I have come: its end is just behind me while its beggining is already lost in the mist of distance", quoted from Muhd.Asad, Road to Mecca.

Wednesday, March 08, 2006

Pelangi di Senja Hari : Episode 2

Episode 2: Era Baru : Politik No! Ekonomi (modal) Yes! Pesta telah dimulai.

Hentakan lagu Hard Days Night dari Beatles baru saja berakhir. Keringat mengucur dari tubuh-tubuh yang penuh gairah dan sensasi, setelah sekian lama kegiatan yang dipersonifikan sebagai budaya barat di larang dinegeri ini. Metty, Pingkan, Heidy, Shania, Dean, Temel, Agus dan Totok kembali ketempat duduk masing-masing. Sementara, Otto kulihat sedang asik berdiri melihat keramaian pesta Ulang Tahun Metty yang ke-17. Oom dan Tante Runtu, kulihat sibuk berbincang-bincang di sudut ruangan. Sedang aku lagi asik melamun, Mas Galuh datang mendekatiku.

Ren, dance yuk? Ajaknya dengan sedikit ragu-ragu. Lagu I started A Joke mengalun sahdu dinyanyikan oleh The Bee Gees. Aku sangat suka lagu itu. Liriknya yang manis dan musiknya yang lembut, membuat aku sukar menolak tawaran Mas Galuh. Aku tertawa geli, ketika Mas Galuh kebingungan mengambil posisi untuk memulai dansa.

Baru belajar ya Mas, kataku sambil cekikikan kecil...

Iya nih Ren, baru seminggu di training Oom dan Tante Runtu, jawab Mas Galuh dengan polos dan agak sedikit gugup.

Nggak usah khawatir Mas, Reni juga baru 2 minggu ini belajar sama temen-temen. Reni latihan sama Ade, aku mencoba menenangkan kegugupan Mas Galuh.

Tapi Ren, kau kelihatannya udah lihay sekale....langkahmu kelihatan terlatih sekali...,puji Mas Galuh.

Udah ah, jangan gombal...., sahutku ketus. Mas Galuh kaget agak kaget mendengar komentarku. Meskipun Mas Galuh bukan orang Jawa asli namun darah jawanya yang masih kental menganut falsafah alon-alon asal kelakon, tentu agak kaget mendengar jawabanku yang rada spontan. Aku sebenarnya sudah lama naksir sama Mas Galuh yang merupakan kakak kelasku di SMA Pangudi Luhur. Dia kelas tiga sementara aku masih dikelas satu. Mas Galuh adalah seorang pengarang cerpen di majalah sekolah yang produktif. Aku sangat menyukai cerpennya yang rada-rada romantis. Tubuhnya yang ceking dan rambutnya yang kribo kelihatannya cocok dengan seleraku yang menyukai cowok yang rada-rada nyentrik alias nyeni.

Pengetahuan Mas Galuh pada masalah-masalah sosial dan politik juga cukup intens. Kesukaannya membaca, membuat Mas Galuh enak diajak bicara soal apapun, mulai dari kisah pemulung sampai kisah Che’ Guevara. Ketika seni dan politik di dominasi oleh aliran kiri di jaman presiden Soekarno, Mas Galuh adalah seorang pembangkang dan mbalelo terhadap upaya pelarangan terhadap seni atau budaya yang kebarat-baratan. Bagi Mas Galuh semua itu dipandang baik dan positif sepanjang kita bisa mengapresiasikannya dengan baik. Semua kegiatan seni dan budaya dari paham atau idelogi apapun mempunyai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan. Pada dasarnya tidak ada satupun yang dapat mengklaim suatu kesempurnaan.

Berdiskusi dengan Mas Galuh dapat berlangsung berjam-jam tanpa terasa ada suatu kebosanan. Mas Galuh sangat terbuka, apresiatif dan tidak defensif dalam berdiskusi. Dia selalu memberikan ruang-ruang terbuka bagi kita untuk berpartispasi, berkontribusi dan berekspresi secara dinamis dalam setiap diskusi. Dia tidak pernah memborong percakapan dan memojokkan lawan bicara. Kekagumanku kepada Mas galuh membuat aku sendiri bertanya-tanya apakah aku berposisi seorang “believer” atau “lover” terhadap dirinya. Menurut penilaianku Mas Galuh sendiri masih belum mengambil posisi yang pasti dan masih dalam tahap pendekatan. Sementara aku masih berpikir-pikir, apakah mempertahankan hubungan sebagai teman atau berlanjut kepada hubungan yang lebih serius.

Lagu I Started A Joke semakin memecah keheningan suasana dilantai dansa. Kulihat Mas Galuh sedikit agak ngelamun. Sikap usilku mulai timbul. Dengan sengaja kuinjak kakinya dengan sepatuku yang bertumit tinggi.

‘Waduh........., teriak Mas Galuh dengan nada suara tertekan. Aku tertawa cekikikan melihat ekspresi wajah Mas Galuh yang meringis karena kesakitan.’

‘Gila lu Ren....elu kok kejam banget sih. Sempet-sempetnya nginjak kaki gue, protes Mas Galuh.

‘Abis, Reni lihat Mas Galuh kok masih sempet ngelamun. Mikirin siapa hayo? Mikirin cewek lainnya ya?. Gue cemburu loh....., sengaja aku menggoda Mas galuh, agar dia semakin kagok dan kikuk. Padahal aku dan Mas Galuh belum saling kenal benar. Aku sengaja mencoba memecahkan kesunyian dan kekakuan diantara kami dengan cara menginjak kakinya mas Galuh. Lagi pula tangan Mas Galuh makin lama terasa semakin dingin bagaikan es. Rupanya dia agak groggi berdansa denganku.

‘ Ren, mana mungkinlah aku memikirkan cewek lain, kalau cewek cakep bagaikan bidadari seperti kau ada dalam pelukanku, kata Mas galuh balas menggodaku.

“ Enak aja, kita kan nggak pelukan, cuma pegangan tangan doang,..idiih...Mas Galuh GR deh.....”, balasku sengit. “Percekcokan” kami berakhir karena lagu I started A joke telah selesai dan Mas Galuh mengantarkan aku kembali ketempat dudukku.

“ Thanks ya Ren,.....”ucap Mas Galuh. Aku mengangguk kecil dan Mas Galuhpun berlalu. Itu sepenggal kisah yang masih berbekas dihatiku sampai saat ini. Mas Galuh, cowok kribo ceking yang ganteng. Kakak kelas yang nyentrik dan nyeni.

2 Comments:

  • At 7:44 PM, Blogger tikabanget said…

    wahhh.. cerpen apa pengalaman nih???
    hihihi..

     
  • At 3:36 PM, Blogger Adriansyah Jackataroeb said…

    tika,
    awasss jangan suka nggodain ya, gw mau nyaingin maesa jenar ayu, bikin novel2an...yang ini termasuk jenis novel biography....hehehehe...lol.
    Kalau tike tertarik gw terusin, kalau nggak ....ya males2an..nerusinnya...abis time consuming......sementara nggak ada penerbit kinclong yang mau promosi-in.....lol...

     

Post a Comment

<< Home