FREEDOM OF SPIRIT

"Life is looking deep into yourself,...reading into your deepest soul,..craving the wall of your heart,...and sucking it into the silence of sound", Adriansyah Jackataroeb, quoted from "The Rainbow in the Dawn". "I turn around in my saddle and seen behind me the waving,weaving mass of thousands of white-clad riders and, beyond them, the bridge over which I have come: its end is just behind me while its beggining is already lost in the mist of distance", quoted from Muhd.Asad, Road to Mecca.

Monday, October 10, 2005

PERTAMINA I : BUAH SIMALAKAMA

Seperti sebuah perumpamaan, buah simalakama adalah buah yang apabila dimakan mati bapak dan apabila dibuang akan mati ibu. Perumpamaan itu tampaknya pas buat Pertamina, sebuah perusahaan perminyakan negara yang tak rundung putus ditimpa berbagai masalah dari mulai korupsi sampai dengan penyelundupan minyak. Apakah itu memang karakter sebuah perusahaan negara? Tidak juga karena ada beberapa perusahaan negara yang dapat dikelola dengan baik dan menghasilkan keuntungan di republik ini. Apakah itu karena karakter suatu perusahaan minyak yang mendapat beban PSO (Publik Service Obligation) dari Pemerintah? Tidak juga karena dinegara-negara Asia ini ada beberapa perusahaan minyak seperti Petronas (milik Malaysia) dan CNOOC (milik China-Beijing) yang berhasil bukan saja di tingkat regional tapi juga di tingkat internasional(Global). Lalu mengapa Pertamina bisa tersuruk dan tersungkur menjadi perusahaan minyak jago kandang, yang kadang2 masih keok juga dalam mengurusi masalah distribusi BBM didalam negeri.
Yang jelas kita ketahui bahwa Pertamina sejak awal di pimpin oleh orang2 yang tidak berkarakter. Orang2 tersebut yang tidak mempunyai visi, misi dan objective yang jelas kemana Pertamina ini akan dibawa kemasa depan. Pertamina juga tidak luput dari pengaruh Pemerintah sejak jaman Orde Baru smapai dengan Orde Reformasi. Pertamina penuh dengan tumpang tindih kepentingan berbagai pihak. Pertamina sangat mengetahui hal ini dan para pemimpinnya mencoba untuk mengambil berbagai kesempatan (opportunistis) untuk mengeruk keuntungan pribadi. Oleh karena itu, siapapun yang mempimpin Pertamina, sejak jaman Ibnu Sutowo samapi dengan Widya Purnama, tidak satupun yang tampil dengan terobosan-terobosan yang brillian. Semuanya terpaku dengan issue2 jangka pendek, dan tidak pernah mempunyai road map ataupun blue print mengenai kemana Pertamina akan dibawa kemasa yang akan datang. Pertamina lebih senang dengan kegiatan dagang minyak dan olie, daripada sebagai perusahaan eksplorasi seperti Petronas dan CNOOC. Karena dagang seperti itu jelas akan meraih keuntungan secara pasti. Oleh karena itu, sangatlah tidak tepat untuk menunjuk orang sekelas Widya Purnama untuk memimpin Pertamina yang hanya bersandar pada bisnis “: Cost plus Fee”. Menunjuk Wydia sebagai pimpinan Pertamina tanpa diberi target tertentu hanya akan membawa Pertamina kejurang kehancuran. Apalagi sudah menjadi rahasia umum bahwa Widya adalah hasil rekrutan PDI dibawah kepemimpinan Laksamana Sukardi (PDI), sehingga mempertahankan Widya hanyalah akan memperburuk kinerja Pertamina yang sudah terconteng-moreng dengan aspirasi partai politik (PDI). Wallahualam.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home