FREEDOM OF SPIRIT

"Life is looking deep into yourself,...reading into your deepest soul,..craving the wall of your heart,...and sucking it into the silence of sound", Adriansyah Jackataroeb, quoted from "The Rainbow in the Dawn". "I turn around in my saddle and seen behind me the waving,weaving mass of thousands of white-clad riders and, beyond them, the bridge over which I have come: its end is just behind me while its beggining is already lost in the mist of distance", quoted from Muhd.Asad, Road to Mecca.

Wednesday, October 05, 2005

BALI: Suicide Bomber Part II

Tak kurang dari 3 tokoh agam Islam mengutuk keras pengeboman di Bali yaitu Gus Dur, Din Syamsuddin dan Syafi’i Maarif. Syafi’i Maarif dalam wawancara dengan radio 68 H mengatakan bahwa kalau si pengebom mengaku beragama Islam maka ybs sebaiknya ybs keluar dari agama Islam karena Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan. Kedua tokoh yang pertama yaitu Gus Dur dan Din Syamsuddin juga mengemukakan hal yang senada. Kalau memang demikian tentu kita akan bertanya-tanya, apakah sudah terjadi sesuatu yang tidak pas dalam pendidikan dan pengajaran agama Islam? Sepanjang yang kita ketahui dan alami memang tidak pernah ada upaya yang sungguh-sungguh dari Pemerintah maupun masyarakat (melalui berbagai organisasi social dan keagamaan) untuk membekali anak-didik (mulai dari SD s/d SMA) mengenai pendidikan dan pengajaran mengenai (agama) Islam secara sistimatis dan terarah (kecuali di Pesantren dan sekolah2 Islam seperti di Al-Azhar).

Kalaupun di pesantren diajarkan mengenai agam Islam, kitapun tidak tahu apakah standar pengajaran mengenai materi agama Islam, sama antara satu pesantren dengan pesantren lainnya. Apakah agama di ajarkan secara dogmatis (one way communication seperti khotbah Jumat) atau diperkenankan adanya dialog atau pendalaman melalui pengayaan sumber2 bacaan dari berbagai mazhab dan aliran. Mestinya perluasan wawasan pemahaman Islam yang tidak dibatasi oleh suatu aliran atau mazhab tertentu akan menjadikan penghayatan akan Islam semakin kuat dan kokoh sehingga tidak mudah terjebak dalam paradigma yang sempit. Namun ide untuk memberikan pengajaran agama secara dini sesuai dengan keyakinan masing2 tampaknya ditentang oleh berbagai pihak dengan berbagai alasan. Mudah2an dengan peristiwa bom Bali yang kedua ini, berbagai pihak yang menentang pengajaran agama secara dini pada anak2 di lingkungan sekolah, kembali berpikir ulang. Pepatah yang mengatakan bahwa siapa yang menebar angina akan menuai badai akan kita ganti dengan: siapa yang menebar kasih (mengajarkan agama dengan benar) akan menuai surga jannatun naim baik di dunia maupun di akhirat.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home