FREEDOM OF SPIRIT

"Life is looking deep into yourself,...reading into your deepest soul,..craving the wall of your heart,...and sucking it into the silence of sound", Adriansyah Jackataroeb, quoted from "The Rainbow in the Dawn". "I turn around in my saddle and seen behind me the waving,weaving mass of thousands of white-clad riders and, beyond them, the bridge over which I have come: its end is just behind me while its beggining is already lost in the mist of distance", quoted from Muhd.Asad, Road to Mecca.

Tuesday, September 27, 2005

Percaloan di sekitar Senayan

Radio 68H sibuk mewartakan kasus percaloan di DPR yang selama ini kita mengetahui bahwa kegiatan percaloan umumnya jamak terjadi di stasiun kereta api, di counter penjualam tiket kapal (PELNI), di bioskop-bioskop, di terminal angkutan darat dan diterminal angkutan udara yang lebih dikenal dengan istilah “airport” dikalangan intelektual. Tapi rupanya aktivitas percaloan sudah menjamah tempat yang bergengsi dan terhormat yaitu di gedung DPR. Anggota DPR yang kita harapkan berperan melindungi kepentingan rakyat malah melakukan “insider trading” alias memperdagangkan kepentingan rakyat. Bukan hal yang aneh kalau para pimpinan proyek diberbagai departemen (dipusat dan didaerah) harus memberikan upeti kepada DPR agar persetujuan proyek oleh Panitia Anggaran DPR berjalan mulus. Semakin besar nilai proyek semakin besar pula upeti yang harus diserahkan. Oleh karena itu, kita tidak heran kalau diantara anggota DPR baku hantam untuk memperoleh kedudukan sebagai Ketua Umum atau Ketua Fraksi karena hasil akhir yang ingin dicapai adalah UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Kitapun sekarang tidak heran kalau anggota DPR mempunyai 3 atau 4 mobil mewah dan garasi rumahnya dapat menampung 12 mobil sekaligus. Situasi ini mirip dengan apa yang terjadi di Pakistan yaitu kolaborasi antara eksekutif dan legislative untuk merampok uang negara, yang seharusnya untuk men-sejahterakan rakyat dan mencerdaskan bangsa. Di Pakistan seorang pegawai negeri perlu menabung 14 tahun untuk dapat membeli sebuah sepeda, sementara seorang anggota parlemen dengan gampang mengeluarkan uang 2000 dolar untuk membeli sebuah pulpen mountblanc. Kalau gambaran kedepan akan masih seperti itu, apakah kita masih percaya kepada mereka baik sebagai individu atau sebagai wakil partai? Apakah kita masih perlu mengadakan pemilu? Apakah kita masih perlu punya partai sebagai instrument demokrasi? Wallahualam.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home