FREEDOM OF SPIRIT

"Life is looking deep into yourself,...reading into your deepest soul,..craving the wall of your heart,...and sucking it into the silence of sound", Adriansyah Jackataroeb, quoted from "The Rainbow in the Dawn". "I turn around in my saddle and seen behind me the waving,weaving mass of thousands of white-clad riders and, beyond them, the bridge over which I have come: its end is just behind me while its beggining is already lost in the mist of distance", quoted from Muhd.Asad, Road to Mecca.

Friday, September 23, 2005

NKRI-Masih sebuah wacanakah?

Rekan2 yth.

Subyek diatas tampaknya sangat menggelikan kalaupun tidak mengerikan. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa setelah 60 tahun merdeka, negara republik Indonesia ini ternyata masih sebagai sebuah wacana. Tentu sebagian rekan-rekan bertanya, apa dasarnya saya mengatakan seperti itu? Apakah karena saya masih bermimpi atau tidur? Tidak...., saya tidak tidur atau pingsan, saya dengan sadar sesadar-sadarnya mengatakan bahwa sebenarnya kita belum siap menjadi bangsa yang merdeka. Kalaupun kita mencatat sebuah kemajuan, itu bukan karena upaya kita namun kemajuan itu mengalir seperti air mengalir di sungai. Air itu mengalir dengan sendirinya bukan karena kemauan atau usaha kita, dia berjalan sendiri sesuai dengan kehendak alam.

Mari kita secara sederhana melihat perkembangan ekspor kita dalam bentuk hasil perkebunan (seperti teh,kopi,karet, kopra, ikan dsb)dari tahun 50-an sampai tahun 2005. Bandingkan dengan Malaysia,Thailand, Philipina, China. Sungguh gambaran yang sangat menyedihkan! Malaysia,Thailand dan Philipina pada tahun 50-an, ekspor base-nya sangat kecil bahkan ada beberapa yang masih nihil namun selama periode 60 tahun, ketiga negara tersebut tumbuh ribuan persen sementara kita tumbuh dengan falsafah "air mengalir" (tumbuh hanya satu digit dan kadang2 dua digit). Sekarang base ekspor komoditi dari ketiga negara tersebut sudah sama dan bahkan ada yang melebihi Indonesia.Kesimpulannya kita sebagai sebuah negara tidak pernah mempunyai visi,misi dan tujuan (objective) yang konsisten dan berkesimabungan dari waktu ke waktu. Kita tidak pernah men-targetkan akan seprti apa untuk 20 sampai 30 tahun kedepan. Kita sangat sibuk dengan hal-hal yang berjangka pendek sehingga lupa untuk merencanakan bagaimana bentuk negara dan bangsa ini dimasa depan. Apa rencana kita untuk mengembangkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia? Bagaimana kita menggabungkan kedua potensi itu dengan kemajuan teknologi sehingga dicapai hasil yang optimal untuk men-sejahterakan bangsa dan memperkuat ketahanan (ekonomi dan politik) negara. Kita tampaknya tak sempat untuk memikirkan itu. Sebagian besar tenaga, enerji dan pikiran kita, kita habiskan untuk "ribut" sesama kita, untuk mempersoalkan hal2 sepele. Kita lupa peran kita sebagai warga negara, yang sebenarnya ikut bertanggung jawab untuk memajukan dan mencerdaskan bangsa. Kita terlalu terpana bahwa semua itu dapat dikerjakan oleh Pemerintah atau Negara.

Akankah kita berubah dimasa depan atau tetap dalam kebodohan dan kedunguan seperti saat sekarang ini? Akankah kita tetap berkutat pada persoalan-persoalan ideologi, keagamaan, politik dan melupakan kewajiban kita untuk menentukan kemana kehidupan berbangsa dan bernegara diarahkan? Apakah sebagai kaum intelektual yang menikmati kenyamanan ber-internet, kita diam begitu saja sebagai penonton? Milis ini didirikan, sesuai dengan visi,misi dan objective-nya, adalah untuk menggali pemikiran-pemikiran yang otentik, segar dan dinamis. Mengetuk pintu idealisme mereka yang terpanggil untuk menyumbangkan pemikiran-pemikiran dibidang ekonomi dan sosial secara konkrit guna memecahkan atau mencari solusi dari berbagai tantangan (sosial, kultural dan ekonomi) yang dihadapi bangsa ini.

Akankah kita berhasil? Waktu yang akan membuktikannya. Apabila peserta milis ini tumbuh dengan pesat dan dinamis serta melahirkan banyak ide,gagasan dan opini yang kreatif dan konstruktif maka sebenarnya wawasan berbangsa dan bernegara itu ada dan eksis. Bukan merupakan wacana, seperti apa yang saya duga dan pikirkan. Berarti masih banyak orang yang concern mengenai kelangsungan hidup negara dan bangsa ini.

Harapan saya demikian dan semoga saya tidak bermimpi.

Jakarta, Jum'at 23 September 2005

Salam,
Adriano J.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home