FREEDOM OF SPIRIT

"Life is looking deep into yourself,...reading into your deepest soul,..craving the wall of your heart,...and sucking it into the silence of sound", Adriansyah Jackataroeb, quoted from "The Rainbow in the Dawn". "I turn around in my saddle and seen behind me the waving,weaving mass of thousands of white-clad riders and, beyond them, the bridge over which I have come: its end is just behind me while its beggining is already lost in the mist of distance", quoted from Muhd.Asad, Road to Mecca.

Tuesday, September 27, 2005

BBM-Adilkah untuk menimpakan risiko ini pada kepemimpinan SBY-Kala?

BBM akan naik pada tanggla 1 Oktober 2005 dan sebelum itu harga telah pula disesuaikan pada bulan Maret yang lalu. Mahasiswa sudah mengancam akan melakukan demo besar2an. Sedih…yang dilakukan hanya bisa demo,demo dan demo. Jalanan akan macet dan apabila demo tersebut berubah jadi anarkis dan tidak terkendali maka akan menimbulkan risiko politik dan social yang tidak perlu. Sementara rakyat sudah jenuh dengan berbagai “keributan” dan “hangar bingar” politik yang tidak perlu.

Disisi lain, kita lihat SBY-Kala hanyalah menerima sebuah hasil estafet dari manajemen ekonomi yang tidak becus dari orde baru maupun dari orde reformasi. Kita sudah sangat tahu bahwa minyak dan gas bukan sumber daya alam yang dapat terbaharukan namun kita tak pernah memikirkan secara sungguh-sungguh bagaimana kalau sumber-sumber yang terbatas ini habis. Kita selalu berpikir sangat jangka pendek sehingga kita selalu terkejut-kejut apabila kita berada dalam suatu situasi yang tidak kita harapkan. Ketika harga minyak naik mencapai level 70 dollar perbarrel, kita terkejut bahwa nilai impor minyak dalam dollar menjadi menggelembung luar biasa. Kebutuhan dollar Pertamina yang tadi kecil tiba-tiba membesar dan mengganggu keseimbangan pasar dollar dalam negeri sehingga mengguncang nilai rupiah. Semasa BBM melimpah ruah, kita menggunakannya secara boros dan kita tak pernah secara konsisten dan berkesinambungan untuk memikirkan alternative enerji lainnya seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Kita tak pernah memikirkan membangun transportasi massal (dalam kota atau antar kota) untuk menghindarkan penggunaan mobil yang sangat boros enerji.

Kita selalu dibohongi oleh LSM yang dibiayai oleh negara2 Barat bahwa sumber daya manusia kita belum mampu mengelola PLTN. Padahal mereka tahu bahwa penggunaan PLTN sangat strategis dan dalam jangka panjang lebih ekonomis karena menghemat sumber2 enerji yang tidak terbaharukan. Negara-negara Barat menggunakan PLTN untuk menghemat minyak bumi dan Gas yang mereka miliki, sementara kita menjual dan menggadaikannya dengan kontrak jangka panjang dengan harga murah. Pada saatnya kita akan dipaksa membeli minyak bumi dengan harga mahal dan sangat membebani perekonomian kita. SBY-Kala harus menghadapi badai untuk mengatasi persoalan ini, yang diwariskan oleh para pendahulunya. Adilkah kita membebankan semua ini kepundak mereka?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home